Oleh: buntar candra (buntaroutsidersaremania) | April 26, 2010

Bambu koil rambah pasar AS & Eropa

Keahlian mengolah bambu menjadi barang yang memiliki nilai seni dan nilai tambah menjadi aneka ragam fungsi tidak mudah. Perlu ketekunan dan keterampilan khusus mengolahnya menjadi barang bernilai seni tanpa terlepas dari fungsi utama. Ide cemerlang juga dibutuhkan untuk membuat karya yang beda dengan karya orang lain. Suwarji perajin bambu sejak 1986 telah mengembangkan keterampilan mengolah bahan baku bambu menjadi berbagai jenis alat rumah tangga. Bahkan saat ini sudah merambah pasar Eropa dan Amerika Serikat (AS) dengan andalannya nampan batik dan bambu koil.

Tetapi juga tidak mudah untuk menjual jenis produk bambu yang bisa dijual ke luar negeri. Perlu memutar otak setiap kali akan  membuat model baru karena selain karena permintaan di negara tujuan juga konsumen menginginkan bentuk yang unik.

Bambu koil yang menjadi andalan Suwarji karena bentuknya yang mirip dengan pesawat makhluk luar angkasa alien yang biasa ada di film animasi. Sepintas tidak mengira kalau bambu koil terbuat dari bambu karena bentuknya berlekuk-lekuk  menyerupai piring terbang. Namun setelah proses pembuatan, bambu koil terbuat dari lilitan bambu yang dibentuk menyerupai piring besar atau mirip dengan tempat buah dengan berbagai bentuk. Diberi lem kayu dan amplas mengubah bambu menjadi bentuk yang unik.

Pameran tingkat nasional sudah sering dilakoninya, bahkan dalam waktu dekat mewakili DIY untuk pameran ke Jakarta. “Bambu koil banyak diminati karena bentuknya yang unik pangsa pasarnya sampai ekspor, saat pameran nanti juga menjadi maskot kerajinan saya,” kata Suwarji saat ditemui di rumahnya, belum lama ini.

Selain bambu koil sebagai tempat buah juga memproduksi, nampan batik, tempat tisu, tempat sampah dan lainnya sekitar 300 jenis yang semuanya terbuat dari bambu apus. Jika ramai pesanan bisa mencapai 800 nampan hingga 24.000 tempat buah dengan per buah mulai dari Rp7.500 – Rp500.000.

Usahanya yang saat ini semakin saat ini tidak lepas dari usaha kerasnya sejak 23 tahun yang lalu memulai membuat kap lampu. Pria yang hanya lulusan sekolah dasar tersebut berpikir bahwa kalau terus terusan membuat kap lampu dari bambu tidak akan berkembang jika bentuknya monoton.

Oleh karena itu pada 2002 silam, Suwarji mulai mengembangkan model-model kreasi kerajinan bambunya dan berhasil membuat karya hingga ratusan jenis. Suwarji yang juga mengelola FDA Handicraft mewaspadai perdagangan bebas AC-AFTA dikhawatirkan berpengaruh terhadap kerajinan yang di produksinya.(aan/harian jogja)

selengkapnya di http://www.gunungkidulkab.go.id

Iklan

Responses

  1. bagoooes


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: